Foto: |
Setiap tanggal merah/libur perayaan agama, saya selalu bertanya-tanya. Mengapa hanya saat Natal tiba, di media ramai diberitakan kontroversi penafsiran ulama muslim Indonesia soal halal haramnya mengucap selamat pada ummat Kristiani. Saya kurang paham dengan muslim di negara lain apakah saat Natal tiba ulamanya pada ribut atau tidak. Yang jelas di negara yang majemuk ini, hari Natal adalah lagu wajib pada ulama untuk keluar menyampaikan penafsirannya soal ucapan tersebut.
Imlek juga adalah perayaan besar ummat Tionghoa. Kemana ulama-ulama muslim Indonesia yang ahli dalam mengeluarkan fatwah? Apakah berbeda derajat Tahun Baru Imlek dengan Hari Natal dimata pemfatwah sehingga mereka tak perlu berkoar dan sebagainya. Atau akumulasi jumlah ummat menentukan keluarnya fatwah atau tidak. Karena Kristen adalah agama terbesar di Dunia sehingga layak untuk tak usah diberi selamat. Karena ummat Tionghoa jumlahnya sedikit, karena kasihan jadi musti ditoleransi begitu? Atau jangan-jangan selama ini, kontroversi penghalal haraman dihari Natal hanya adu domba koorporasi media yang haus berita.
Bila pengfatwah mau menegakkan syariat agama, mengapa harus setengah-setengah. Mengapa hari ini tidak ribut-ributan melarang ummat muslim untuk mengucap kata selamat. Juga kemana mereka saat hari waisak dan hari besar agama lainnya. Sebagai ummat musilm, saya memang kurang paham soal tafsir menafsir kitab suci. Secara sederhana saya hanya memahami agama diciptakan untuk kedamaian, agar kita saling terus menyapa dan tersenyum. Tak ada salahnya mengucap selamat bila saudara kita merayakan hari besarnya, selama itu tidak memudarkan kadar ketauhidan kita. Mari kita jaga keindahan beragama di bumi pertiwi ini.
Selamat Hari Imlek buat saudara Tionghoa.
Gong Xi Fa Cai
0 komentar:
Posting Komentar